--- admin@rsudjatisari.id Karawang, Jawa Barat

Nyeri Setelah Operasi, Normal atau Berbahaya? Kenali 6 Tanda yang Perlu Diwaspadai

“Sudah operasi, kok masih sakit?” Pertanyaan tersebut sangat umum muncul pada pasien maupun keluarga setelah menjalani tindakan operasi. Rasa nyeri memang merupakan bagian yang sering terjadi dalam proses pemulihan setelah pembedahan. Namun, tidak semua nyeri dapat dianggap sebagai keluhan biasa.

Artikel Kesehatan 7 September 2026 3 menit baca 3 dibaca
Nyeri Setelah Operasi, Normal atau Berbahaya? Kenali 6 Tanda yang Perlu Diwaspadai

“Sudah operasi, kok masih sakit?”

Pertanyaan tersebut sangat umum muncul pada pasien maupun keluarga setelah menjalani tindakan operasi. Rasa nyeri memang merupakan bagian yang sering terjadi dalam proses pemulihan setelah pembedahan. Namun, tidak semua nyeri dapat dianggap sebagai keluhan biasa.

Hal yang perlu diperhatikan bukan hanya seberapa sakit yang dirasakan, tetapi juga bagaimana perubahan nyeri dari waktu ke waktu dan apakah muncul gejala lain seperti demam, perubahan pada luka operasi, pembengkakan tungkai, gangguan gerak, atau sesak napas.

Dengan mengenali tanda-tanda yang perlu diwaspadai, pasien dan keluarga dapat lebih cepat melaporkan perubahan kondisi kepada tenaga kesehatan.

Mengapa Setelah Operasi Kita Masih Merasakan Nyeri?

Operasi melibatkan tindakan pada jaringan tubuh. Respons alami tubuh terhadap cedera tersebut dapat memicu proses peradangan dan penyembuhan yang kemudian menimbulkan rasa nyeri.

Tingkat nyeri setiap pasien dapat berbeda. Jenis dan lokasi operasi, luas tindakan, kondisi kesehatan, pengalaman nyeri sebelumnya, hingga faktor psikologis dapat memengaruhi bagaimana seseorang merasakan nyeri.

Pada operasi ortopedi, pengendalian nyeri menjadi semakin penting karena nyeri yang tidak terkontrol dapat membuat pasien enggan bergerak dan menghambat proses rehabilitasi.

Pengelolaan nyeri saat ini dapat menggunakan pendekatan multimodal analgesia, yaitu mengombinasikan beberapa metode pengendalian nyeri sesuai kondisi pasien dan jenis operasi. Pendekatan ini bertujuan memberikan kontrol nyeri yang optimal sekaligus membantu mengurangi ketergantungan terhadap opioid.

Dengan demikian, pengelolaan nyeri bukan hanya bertujuan membuat pasien lebih nyaman, tetapi juga mendukung proses pemulihan.

6 Tanda Nyeri Setelah Operasi yang Perlu Diwaspadai

1. Nyeri Tiba-Tiba Menjadi Sangat Berat

Nyeri setelah operasi dapat terjadi, terutama pada fase awal pemulihan. Namun, apabila nyeri yang sebelumnya dapat dikendalikan tiba-tiba menjadi sangat berat, kondisi tersebut sebaiknya segera disampaikan kepada dokter atau perawat.

Perubahan nyeri yang mendadak perlu dievaluasi untuk mengetahui penyebabnya.

Jangan menambah dosis obat pereda nyeri sendiri tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Dokter dapat melakukan penilaian ulang dan menentukan apakah terapi pengendalian nyeri perlu disesuaikan.

2. Nyeri Semakin Berat, Bukan Berangsur Membaik

Setiap orang memiliki kecepatan pemulihan yang berbeda. Namun, apabila nyeri justru semakin berat, terus mengganggu aktivitas, atau tidak terkendali dengan obat yang diberikan, pasien perlu melaporkannya.

Nyeri yang tidak terkontrol dapat membuat pasien takut bergerak. Padahal, jika kondisi pasien sudah memungkinkan, mobilisasi secara bertahap merupakan salah satu bagian penting dalam proses pemulihan.

Pasien tidak perlu merasa harus menahan rasa sakit. Sampaikan kepada tenaga kesehatan apabila obat yang diberikan belum cukup membantu mengendalikan nyeri.

Pendekatan multimodal dalam pengelolaan nyeri merupakan salah satu strategi yang direkomendasikan dalam manajemen nyeri pascaoperasi.

3. Nyeri Disertai Demam atau Perubahan pada Luka Operasi

Setelah operasi, pasien perlu memperhatikan kondisi luka. Nyeri yang disertai perubahan pada luka dapat menjadi tanda yang perlu dievaluasi.

Waspadai apabila terdapat:

Demam atau menggigil.

Kemerahan di sekitar luka yang semakin luas.

Pembengkakan atau rasa panas pada area luka.

Nyeri di sekitar luka yang semakin berat.

Keluar cairan keruh atau seperti nanah.

Cairan luka berbau tidak sedap.

Menurut CDC, tanda infeksi pada area operasi antara lain kemerahan dan nyeri di sekitar lokasi operasi, keluarnya cairan keruh dari luka, serta demam. Jika gejala tersebut muncul setelah pulang dari rumah sakit, pasien dianjurkan segera menghubungi tenaga kesehatan.

Kondisi ini dapat mengarah pada surgical site infection (SSI) atau infeksi luka operasi dan memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

4. Muncul Mati Rasa, Kesemutan, atau Kelemahan

Pasien yang menjalani operasi pada tulang belakang atau anggota gerak juga perlu memperhatikan perubahan fungsi tubuh.

Segera laporkan kepada tenaga kesehatan apabila setelah operasi muncul:

Mati rasa yang sebelumnya tidak ada.

Kesemutan yang semakin berat.

Anggota gerak terasa semakin lemah.

Sulit menggerakkan tangan atau kaki.

Perubahan sensasi yang semakin memburuk.

Keluhan tersebut tidak selalu berarti terjadi komplikasi serius, tetapi tetap perlu dinilai oleh tenaga kesehatan untuk mengetahui penyebabnya.

Jangan mencoba menentukan sendiri penyebab keluhan berdasarkan informasi dari internet. Pemeriksaan langsung diperlukan untuk menentukan apakah keluhan berkaitan dengan proses pemulihan, efek tindakan, saraf, atau kondisi lainnya.

5. Tungkai Bengkak dan Terasa Nyeri

Pasien setelah operasi, terutama setelah operasi besar atau ketika mengalami keterbatasan gerak, dapat memiliki risiko mengalami venous thromboembolism (VTE), termasuk deep vein thrombosis (DVT).

DVT merupakan kondisi ketika terbentuk bekuan darah pada vena dalam, yang paling sering terjadi pada tungkai.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:

Salah satu tungkai mengalami pembengkakan.

Nyeri atau rasa tidak nyaman pada tungkai.

Tungkai terasa lebih hangat.

Kulit tampak kemerahan atau mengalami perubahan warna.

CDC menyebut pembengkakan, nyeri atau nyeri tekan, rasa hangat, serta kemerahan atau perubahan warna sebagai tanda yang umum pada DVT.

Jangan abaikan keluhan tersebut. Segera hubungi tenaga kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan.

Waspadai Tanda Emboli Paru

Jika bekuan darah terlepas dan bergerak menuju paru-paru, kondisi tersebut dapat menyebabkan pulmonary embolism (PE) atau emboli paru, yang merupakan keadaan serius dan membutuhkan pertolongan medis segera.

Segera cari pertolongan medis apabila muncul:

Sesak napas mendadak, nyeri dada terutama saat menarik napas atau batuk, jantung berdebar, batuk berdarah, pusing berat, atau pingsan.

6. Nyeri Membuat Takut Bergerak

Rasa takut bergerak setelah operasi adalah hal yang wajar.

Pasien mungkin berpikir, “Kalau bergerak nanti sakit.”

Namun, apabila dokter telah menyatakan bahwa pasien aman untuk melakukan mobilisasi, terlalu lama tidak bergerak juga dapat menghambat proses pemulihan dan meningkatkan risiko berbagai komplikasi.

Pada pasien setelah operasi fraktur panggul, sebuah systematic review dan meta-analysis yang mencakup 13 studi dengan lebih dari 297.000 pasien menemukan bahwa mobilisasi lebih awal berhubungan dengan angka kematian 30 hari dan komplikasi yang lebih rendah dibandingkan mobilisasi yang terlambat. Peneliti juga menekankan bahwa hubungan tersebut belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung.

Namun, mobilisasi dini bukan berarti pasien harus langsung berjalan sendiri.

Mobilisasi dapat dilakukan secara bertahap sesuai kondisi pasien, misalnya:

Latihan di tempat tidur → duduk → berdiri dengan bantuan → berjalan menggunakan alat bantu → meningkatkan aktivitas secara bertahap.

Tahapan tersebut dapat berbeda pada setiap pasien. Jenis operasi, kondisi luka, kekuatan otot, keseimbangan, serta instruksi dokter dan fisioterapis harus menjadi pertimbangan.

Bergerak Setelah Operasi, Boleh atau Tidak?

Jawabannya: tergantung kondisi pasien dan jenis operasinya.

Tidak semua pasien memiliki batas aktivitas yang sama. Ada pasien yang dapat mulai melakukan mobilisasi lebih awal, sementara pasien lain mungkin membutuhkan pembatasan gerak untuk sementara waktu.

Karena itu:

Jangan berdiri atau berjalan sendiri jika belum diperbolehkan.

Ikuti instruksi dokter dan fisioterapis.

Gunakan alat bantu sesuai petunjuk.

Minta bantuan perawat jika belum mampu melakukan mobilisasi secara mandiri.

Jangan memaksakan aktivitas ketika muncul keluhan yang tidak biasa.

Tujuan mobilisasi adalah membantu pasien kembali berfungsi secara bertahap, bukan memaksakan tubuh melewati batas kemampuan.

Kapan Nyeri Setelah Operasi Harus Segera Dilaporkan?

Pasien dan keluarga dapat menggunakan prinsip sederhana berikut:

🟢 Nyeri masih dapat dikendalikan dan berangsur membaik

Pantau dan ikuti anjuran tenaga kesehatan.

🟡 Nyeri semakin berat atau muncul gejala baru

Segera laporkan kepada dokter atau perawat.

🔴 Nyeri disertai sesak napas, nyeri dada, pingsan, atau kondisi memburuk secara tiba-tiba

Segera cari pertolongan medis.

Ingat, pasien tidak perlu menunggu sampai nyeri menjadi tidak tertahankan untuk meminta bantuan.

Jangan Takut Bertanya dan Melaporkan Perubahan Kondisi

Setelah operasi, pasien dan keluarga memiliki peran penting dalam proses pemulihan. Perhatikan perubahan kondisi tubuh dan jangan ragu menyampaikan keluhan kepada tenaga kesehatan.

Nyeri setelah operasi memang dapat menjadi bagian dari proses penyembuhan. Namun, nyeri yang berubah, semakin berat, atau disertai gejala lain perlu mendapatkan perhatian.

Semakin cepat perubahan kondisi diketahui dan dievaluasi, semakin cepat pula tenaga kesehatan dapat menentukan langkah penanganan yang tepat.

“Jangan hanya bertanya: ‘Seberapa sakit?’

Perhatikan juga: ‘Apakah nyerinya semakin membaik atau justru memburuk?’”

RSUD Jatisari Siap Mendukung Pemulihan Anda

Pemulihan setelah operasi membutuhkan perawatan, pemantauan, pengendalian nyeri, serta mobilisasi yang sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.

RSUD Jatisari berkomitmen memberikan pelayanan kesehatan yang aman dan berorientasi pada kebutuhan pasien. Apabila Anda atau keluarga mengalami keluhan setelah operasi, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan evaluasi dan penanganan yang tepat.

Sehat, bergerak, dan pulih bersama RSUD Jatisari.

Sumber Referensi Terpercaya

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) — Surgical Site Infection Basics. Informasi mengenai tanda dan gejala infeksi luka operasi.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) — About Venous Thromboembolism (Blood Clots). Informasi mengenai DVT, emboli paru, gejala, dan faktor risiko.

American Pain Society, American Society of Regional Anesthesia and Pain Medicine & American Society of Anesthesiologists — Management of Postoperative Pain: Clinical Practice Guideline. Pedoman pengelolaan nyeri pascaoperasi dan pendekatan multimodal.

Agarwal N, et al. (2024) — Early mobilisation after hip fracture surgery is associated with improved patient outcomes: A systematic review and meta-analysis. Musculoskeletal Care.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) — informasi mengenai risiko dan tanda VTE setelah rawat inap atau operasi.

Tong J, et al. (2024) — Early Versus Delayed Weight Bearing and Mobilization After Ankle Fracture Fixation Surgery: A Systematic Review and Meta-analysis. Orthopedics.

Baca Juga

Butuh Bantuan Medis Segera?

Tim kami siap membantu Anda. Hubungi kami atau buat janji temu dengan dokter pilihan Anda.