
“Sudah tua, wajar kalau sering pusing, cepat lelah, atau susah berjalan.”
Kalimat seperti ini mungkin sering kita dengar. Padahal, tidak semua keluhan pada lanjut usia (lansia) merupakan bagian yang wajar dari proses penuaan. Pusing berulang, mudah lelah, gangguan keseimbangan, kesulitan berjalan, perubahan daya ingat, atau penurunan berat badan yang tidak direncanakan dapat menjadi tanda adanya masalah kesehatan yang perlu diperiksa.
Menua merupakan proses alami yang dialami setiap orang. Namun, menua sehat bukan sekadar bertambahnya usia tanpa penyakit. World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa healthy ageing berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk mempertahankan fungsi yang memungkinkan dirinya tetap melakukan hal-hal yang dianggap penting dalam kehidupan, termasuk bergerak, berpikir, beraktivitas, dan menjalani kehidupan secara mandiri.
Karena itu, menjaga kesehatan lansia sebaiknya dilakukan sejak dini dan melibatkan lansia, keluarga, serta lingkungan di sekitarnya.
Keluhan pada Lansia: Mana yang Perlu Diwaspadai?
Pertambahan usia memang dapat disertai perubahan pada kekuatan otot, keseimbangan, penglihatan, pendengaran, tidur, maupun kemampuan fisik. Namun, perubahan tersebut tidak berarti setiap keluhan harus dianggap sebagai konsekuensi normal dari usia.
Misalnya, lansia yang semakin sering jatuh, tiba-tiba sulit berjalan, mengalami pusing berulang, mudah sesak, kehilangan berat badan tanpa sebab yang jelas, mengalami perubahan daya ingat yang mengganggu aktivitas sehari-hari, atau menjadi jauh lebih lemah dari biasanya sebaiknya mendapatkan evaluasi tenaga kesehatan.
Pemeriksaan diperlukan untuk mencari kemungkinan penyebabnya, seperti penyakit kronis, gangguan nutrisi, masalah penglihatan atau pendengaran, efek obat, gangguan keseimbangan, maupun kondisi kesehatan lainnya.
5 Kebiasaan Sederhana untuk Menjaga Lansia Tetap Sehat dan Mandiri
1. Tetap Aktif Sesuai Kemampuan
Aktivitas fisik merupakan salah satu bagian penting dalam menjaga kesehatan lansia. Kurang bergerak dapat menyebabkan kekuatan otot dan kemampuan fisik menurun. Sebaliknya, aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin dapat membantu mempertahankan kemampuan bergerak, kesehatan mental, fungsi kognitif, serta mengurangi risiko jatuh.
WHO merekomendasikan orang dewasa berusia 65 tahun ke atas melakukan:
150–300 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu, atau
75–150 menit aktivitas intensitas berat per minggu, atau kombinasi keduanya.
Latihan penguatan otot setidaknya 2 hari dalam seminggu.
Aktivitas yang melatih keseimbangan dan kemampuan fungsional secara rutin, terutama pada lansia dengan gangguan mobilitas.
Aktivitas tidak harus berat. Jalan kaki, senam lansia, bersepeda santai, latihan kekuatan ringan, atau aktivitas rumah tangga dapat menjadi pilihan sesuai kondisi kesehatan.
Yang terpenting, mulai dari kemampuan sendiri dan tingkatkan secara bertahap. Lansia dengan penyakit tertentu atau keterbatasan fisik sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai jenis dan intensitas aktivitas yang aman.
2. Perhatikan Gizi, Bukan Sekadar Kenyang
Kebutuhan nutrisi pada lansia dapat berbeda dibandingkan kelompok usia yang lebih muda. Penurunan nafsu makan, gangguan gigi dan mulut, perubahan kemampuan mengecap, penyakit tertentu, maupun kesulitan mengakses makanan dapat meningkatkan risiko kekurangan gizi.
Pola makan lansia sebaiknya tetap beragam dan bergizi, dengan memperhatikan:
Sayur dan buah;
Sumber protein seperti ikan, telur, ayam, daging tanpa lemak, kacang-kacangan, dan produk olahan kedelai;
Sumber kalsium sesuai kebutuhan;
Asupan cairan yang cukup;
Membatasi makanan tinggi gula, garam, dan lemak jenuh.
WHO menekankan bahwa asupan protein dan nutrisi yang memadai penting untuk membantu mempertahankan massa tubuh tanpa lemak dan fungsi fisik pada usia lanjut. Namun, kebutuhan nutrisi setiap orang dapat berbeda, terutama pada lansia dengan penyakit tertentu.
Lansia yang mengalami penurunan berat badan, sulit makan, sulit menelan, atau memiliki kondisi medis tertentu sebaiknya mendapatkan penilaian gizi dari tenaga kesehatan.
3. Tidur Cukup dan Tetap Terhubung dengan Orang Lain
Tidur merupakan bagian penting dari kesehatan lansia. Menurut National Institute on Aging (NIA), orang dewasa lanjut usia umumnya membutuhkan sekitar 7–9 jam tidur setiap malam. Tidur yang cukup membantu menjaga kesehatan fisik, suasana hati, kemampuan berpikir, perhatian, dan fungsi sehari-hari.
Selain tidur, jangan abaikan hubungan sosial.
Kesepian dan isolasi sosial pada lansia berkaitan dengan berbagai dampak terhadap kesehatan fisik dan mental serta kualitas hidup. WHO mendorong terciptanya hubungan sosial yang berkualitas melalui keluarga, teman, komunitas, kelompok kegiatan, maupun aktivitas sosial lainnya.
Karena itu, ajak lansia tetap berinteraksi. Mengobrol dengan keluarga, mengikuti kegiatan masyarakat, beribadah, melakukan hobi, berkebun, atau mengikuti kegiatan kelompok dapat menjadi bagian dari kehidupan yang aktif dan bermakna.
4. Cegah Jatuh Sejak Awal
Jatuh bukan sekadar kejadian biasa pada lansia. Cedera akibat jatuh dapat menyebabkan patah tulang, cedera kepala, keterbatasan gerak, hingga berkurangnya kemandirian.
WHO menyebutkan bahwa orang berusia di atas 60 tahun memiliki risiko lebih tinggi mengalami kematian atau cedera serius akibat jatuh. Faktor risikonya antara lain gangguan keseimbangan, gangguan penglihatan, keterbatasan mobilitas, kondisi medis tertentu, efek samping obat, kurang aktivitas fisik, dan lingkungan yang tidak aman.
Pencegahan dapat dimulai dari rumah, misalnya:
Pastikan lantai tidak licin.
Singkirkan kabel atau benda yang dapat membuat tersandung.
Pastikan penerangan cukup, terutama pada malam hari.
Sediakan pegangan pada area yang diperlukan.
Gunakan alas kaki yang aman.
Periksa penglihatan secara berkala.
Evaluasi obat-obatan bersama tenaga kesehatan jika terdapat keluhan seperti pusing atau gangguan keseimbangan.
Latihan kekuatan dan keseimbangan juga dapat menjadi bagian dari strategi pencegahan jatuh.
5. Jangan Menunggu Sakit untuk Memeriksakan Diri
Salah satu tantangan pada lansia adalah beberapa masalah kesehatan dapat berkembang secara perlahan dan tidak selalu menimbulkan gejala yang jelas pada tahap awal.
Karena itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala penting dilakukan untuk membantu menemukan masalah kesehatan lebih dini.
Kementerian Kesehatan RI pada 2026 juga menekankan pentingnya cek kesehatan rutin dan deteksi dini pada lansia untuk membantu menemukan penyakit lebih awal sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat. Pemeriksaan juga dapat membantu memantau kondisi kesehatan dan mendukung lansia agar tetap sehat, aktif, dan mandiri.
Pemeriksaan lansia dapat mencakup penilaian berbagai aspek sesuai kebutuhan, antara lain:
Tekanan darah dan faktor risiko penyakit tidak menular;
Gula darah dan kondisi metabolik;
Status gizi;
Penglihatan dan pendengaran;
Kemampuan bergerak dan risiko jatuh;
Fungsi kognitif atau daya ingat;
Kondisi psikologis;
Penggunaan obat;
Kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari.
Pemeriksaan tidak hanya bertujuan menemukan penyakit, tetapi juga membantu mengetahui kemampuan dan kebutuhan lansia secara menyeluruh.
Kapan Lansia Perlu Segera Diperiksa?
Jangan menganggap semua perubahan sebagai hal yang “wajar karena usia”. Konsultasikan dengan tenaga kesehatan apabila lansia mengalami perubahan yang menetap, semakin sering, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti:
Pusing yang berulang atau semakin berat;
Sering jatuh atau hampir jatuh;
Kesulitan berjalan yang baru muncul atau semakin memburuk;
Kelemahan yang tidak biasa;
Mudah lelah tanpa sebab yang jelas;
Penurunan berat badan tanpa direncanakan;
Penurunan daya ingat yang mengganggu aktivitas;
Perubahan penglihatan atau pendengaran;
Gangguan tidur yang menetap;
Perubahan suasana hati atau menarik diri dari lingkungan sosial;
Keluhan lain yang menyebabkan kemampuan lansia dalam menjalankan aktivitas sehari-hari menurun.
Jika keluhan muncul secara tiba-tiba atau disertai kondisi gawat seperti penurunan kesadaran, kelemahan mendadak pada satu sisi tubuh, sesak napas berat, nyeri dada, atau gangguan bicara mendadak, segera cari pertolongan medis.
Menua Bukan Berarti Harus Kehilangan Kemandirian
Menua adalah proses alami. Namun, penurunan kemampuan yang mengganggu kehidupan sehari-hari tidak selalu harus diterima sebagai sesuatu yang pasti terjadi.
Aktivitas fisik yang sesuai, makanan bergizi, tidur yang cukup, hubungan sosial yang baik, lingkungan rumah yang aman, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala dapat membantu mempertahankan kemampuan fisik dan kemandirian lansia. WHO menempatkan kemampuan fungsional sebagai bagian penting dari konsep healthy ageing, bukan sekadar ada atau tidaknya penyakit.
Bukan sekadar panjang umur, tetapi bagaimana tetap sehat, aktif, mandiri, dan memiliki kehidupan yang bermakna.
Mari bersama keluarga lebih peka terhadap perubahan kesehatan pada lansia. Jangan menunggu keluhan menjadi berat untuk melakukan pemeriksaan.
Sehat di usia lanjut dimulai dari perhatian dan kebiasaan baik sejak sekarang.
Referensi
World Health Organization (WHO). Ageing and Health.
World Health Organization (WHO). WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour.
World Health Organization (WHO). Physical Activity and Sedentary Behaviour: A Brief to Support Older People.
World Health Organization (WHO). Promoting Physical Activity and Healthy Diets for Healthy Ageing in the WHO European Region.
World Health Organization (WHO). Falls.
World Health Organization (WHO). Reducing Social Isolation and Loneliness Among Older People.
World Health Organization (WHO). Healthy Diet.
National Institute on Aging (NIA). Sleep and Older Adults.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pentingnya Cek Kesehatan Rutin dan Deteksi Dini Lansia, KemenCast Episode 154, 22 Juli 2026.


